Senin, 28 Oktober 2013

                                     PERAWATAN BURUNG TERUCUKAN/JAMBUL

Nama asli burung ini adalah merbah cerukcuk atau yellow-vented bulbul (Pycnonotus goiavier). Orang Sunda menyebutnya jogjog, sedangkan orang Jawa mengenalnya sebagai trucukan, yang kemudian juga popular di kalangan kicaumania di Indonesia. Di alam liar, burung ini sering terlihat bersama-sama dengan kutilang.
Meski suara kicauannya tidak sevariatif burung kicauan lainnya, trucukan memiliki suara ropel yang mirip cucakrowo. Itulah yang menjadi salah satu daya tarik trucukan di mata sebagian penggemarnya. Diperlukan perawatan khusus agar trucukan bisa bersuara ropel, apalagi mampu mengembangkan kedua sayapnya atau biasa disebut nggaruda.

Trucukan
Merbah cerukcuck / trucukan / yellow-vented bulbul (Pycnonotus goiavier).
Trucukan termasuk salah satu jenis burung yang mudah jinak atau mudah beradaptasi dengan kehidupan dan lingkungan manusia. Hal ini karena di alam liar, burung ini memiliki habitat di dekat permukiman penduduk, seperti tanah lapang, perkebunan, bahkan di taman-taman kota.
Mereka bahkan membangun sarang di dekat pemukiman atau halaman rumah kita, meski lokasi sarang agak tersembunyi. Boleh jadi, ini merupakan strategi burung trucukan di alam liar agar mampu bertahan hidup di era sekarang.
Sarang trucukan
Sarang trucukan
Sarang mereka kerap ditemukan di beberapa pohon favoritnya, seperti tanaman bambu, kembang sepatu, palem kuning, kaliandra,  pohon jengkol, pohon kenari, dan sebagainya.
Ketinggian sarang yang dibangunnya bervariasi, tergantung jenis tanaman yang digunakannya sebagai tempat bersarang. Yang paling rendah adalah sarang yang dibangun pada tanaman bambu, yang tingginya kurang dari 1 meter dari permukaan tanah.

                                     PERAWATAN BURUNG TERUCUKAN/JAMBUL

Nama asli burung ini adalah merbah cerukcuk atau yellow-vented bulbul (Pycnonotus goiavier). Orang Sunda menyebutnya jogjog, sedangkan orang Jawa mengenalnya sebagai trucukan, yang kemudian juga popular di kalangan kicaumania di Indonesia. Di alam liar, burung ini sering terlihat bersama-sama dengan kutilang.
Meski suara kicauannya tidak sevariatif burung kicauan lainnya, trucukan memiliki suara ropel yang mirip cucakrowo. Itulah yang menjadi salah satu daya tarik trucukan di mata sebagian penggemarnya. Diperlukan perawatan khusus agar trucukan bisa bersuara ropel, apalagi mampu mengembangkan kedua sayapnya atau biasa disebut nggaruda.

Trucukan
Merbah cerukcuck / trucukan / yellow-vented bulbul (Pycnonotus goiavier).
Trucukan termasuk salah satu jenis burung yang mudah jinak atau mudah beradaptasi dengan kehidupan dan lingkungan manusia. Hal ini karena di alam liar, burung ini memiliki habitat di dekat permukiman penduduk, seperti tanah lapang, perkebunan, bahkan di taman-taman kota.
Mereka bahkan membangun sarang di dekat pemukiman atau halaman rumah kita, meski lokasi sarang agak tersembunyi. Boleh jadi, ini merupakan strategi burung trucukan di alam liar agar mampu bertahan hidup di era sekarang.
Sarang trucukan
Sarang trucukan
Sarang mereka kerap ditemukan di beberapa pohon favoritnya, seperti tanaman bambu, kembang sepatu, palem kuning, kaliandra,  pohon jengkol, pohon kenari, dan sebagainya.
Ketinggian sarang yang dibangunnya bervariasi, tergantung jenis tanaman yang digunakannya sebagai tempat bersarang. Yang paling rendah adalah sarang yang dibangun pada tanaman bambu, yang tingginya kurang dari 1 meter dari permukaan tanah.